Memperawani Tenda di Pantai Pasir Perawan

Begitu kalian baca judulnya, apa yang ada di dalam pikiran kalian? Apakah postingan tentang pornografi? Atau gw menemukan seorang perawan terus melakukan *uhuk uhuk* (sensor) di pantai? WOII.. Ini bukan stensilan. Hahaha. Yak intinya sih lagi-lagi tentang pengalaman traveling gw dengan tujuan baru. Jangan kecewa terus nutup page ini yak. Hehehe

Pantai Pasir Perawan

Pantai Pasir Perawan

Ide untuk liburan setelah Lebaran tercetus karena kondisi gw yang nggak mudik. Kemana ya? Pengennya sih yang nggak usah pake cuti gitu. Iya terus kemana? Berhubung nggak pake cuti dan mau yang gampang, ya akhirnya ke Kepulauan Seribu lagi deh. Ah tapi kayanya “bosen” juga keseringan ke Pulau Harapan. Kenapa nggak cari pulau tujuan baru? Kalau Pulau Tidung udah nggak mungkin karena udah terlalu rame! Ehh si

Malam sebelumnya, gw nginap di rumahnya Dee bilang, kenapa nggak ke Pulau Pari aja? Dan akhirnya diputuskan ke Pulau Parilah getaway kali ini. Si Ricco juga ngasih tambahan ide, gimana klo nge-camp? Kebetulan sangat, doi baru aja punya tenda. Belum pernah dipake tuh tenda. Mayan, pengalaman baru.

Malam sebelumnya, gw nginap di rumahnya Ricco supaya memudahkan karena rumah gw yang agak di ujungnya Jakarta (baca Lenteng Agung) sedangkan rumahnya Ricco di Slipi, dekatlah ke Muara Angke. Plannya juga dia bakalan bawa motor. Malam itu, si Dee nge-whatsapp kalau di Pak Udin, CP kita di Pulau Pari mewanti-wanti agar datang lebih awal. Pasalnya, kata Pak Udin, dermaga bakal menerapkan sistem buka-tutup jika dermaga over kuota. Well, katanya sih untuk mengantisipasi orang pulau yang pulang mudik dan tamu-tamu yang akan mengunjungi pulau. Mendengar hal ini, gw dan Ricco langsung bilang, kita berangkat jam5! Selesai sholat Subuh, kita langsung meluncur ke arah Muara Angke dan sesampainya di sana yang masih pukul 5:30, suasana sudah mulai RAME!!! Mulai telpon si Dee yang emang lebih banyak kontak dengan Pak Udin. “Aku masih di TJ” #tepokjidat…Ya udahlah langsung minta nomor Pak Udin, kuatir di Dee nggak sampe ke Angke. Hahaha. Pak Udin pun memberi tahu untuk naik aja Kapal Sinar Laut. Mulai deh ngubek-ubek dermaga, cari dari ujung ke ujung. Kok nggak ada!! Yang gw liat Cahaya Laut, pas mau naik, tanya lagi ke ABK-nya “Pak ini Sinar Laut?”. Si bapak menjawab, “Sinar Laut di belakang POM Bensin!”. Lalu gw dan Ricco berjalan balik ke arah POM. Dan si kapal Sinar Laut ini benar-benar di belakang POM dan nggak keliatan! Sebelum naik si nahkoda sempat tanya mau kemana, langsung aja gw jawab tamunya Pak Udin di Pari. Pas naik ke kapal, wahhh sepi benerr!! Ini mah gw bisa guling-guling! #lebay. Sekatang nelpon si Moja aka Miss Cancellation. “Lo dimana Ja?” dengan santai dia jawab “Di Tol”. OK, gw langsung jejer-jejerin tas aja buat ngetekin tempat. Dee datang nggak lama kemudian, terus si Moja. Ketika datang si Moja nyengir-nyengir. “Napa lo?”. Lha ditanya gitu dia malah ngerogoh tasnya terus ngeluarin sebuah G12 dilengkapi housing underwater-nya. WOWWW!! Takjub sekaligus ketawa ngebayangin dulu dia punya kamera underwater GoPro yang ujung-ujungnya karena kegatekannya nggak bisa dipake. Hahaha. Langsung aja gw bully, “Bisa makenya nggak? Hahaha”

Mejeng di Pantai Pasir Perawan

Perjalanan ke Pulau Pari merupakan perjalanan “tersingkat” gw selama beberapa kali berkunjung ke kepulauan Seribu. Yang biasanya ke Pulau Harapan bisa 3-4 jam, ke Pulau Pari hanya 1.5 jam. Sesampainya di dermaga, Pak Udin sudah menyambut kami. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah warga dimana Dee dan Moja menginap yang masih saudara Pak Udin bernama Mbak Yanti, tak lupa kita berfoto di patung ikan pari di dermaga. Rumah ini letaknya dekat dengan lokasi pantai Pasir Perawan. Nggak berlama-lama, setelah menaruh semua barang bawaan, kita langsung beranjak menuju Pantai Pasir Perawan. Pantai ini luas. Pasirnya putih bersih. Warung-warung yang terbuat dari gubuk-gubuk bambu tertata rapi. Saung-saung serta hammock juga tersedia di pantai ini. Di pantai ini juga banyak disediakan tong-tong sampah sehingga pantai ini pun bersih. Selain adanya tong sampah, ada juga petugas kebersihan yang menyapu pantai! Ada juga lapangan voli pantai. Tetapi untuk bermain voli pantai, dikenakan biaya. Ada juga penyewaan kano jika kalian ingin berkano di pantai ini. Tak lupa kami juga menikmati kelapa muda dengan ditemani desiran angin laut #aseekkk. Setelah matahari cukup terik dan meninggi ditambah perut yang mulai keroncongan, kami kembali ke rumah Mbak Yanti. Sesampainya di sana, hidangan makan siang siap disantap. Makan!

Kelapa Muda

Nah, karena kita berempat ke pulau memang untuk menghilangkan rasa sakaw kita terhadap laut. Nggak mau berlama-lama beristirahat setelah makan, kami meminta Pak Udin untuk mencarikan “tebengan” untuk snorkeling. Sayangnya, tamu Pak Udin hari itu hanya kami berempat #hikz. Alhasil kami nggak bisa snorkeling ke tempat yang agak jauh. Menurut Dee yang memang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Pulau Pari, ada spot snorkeling di dekat dermaga yang cukup bagus tanpa perlu menyewa kapal. Nah, ini lah masalahnya, kami nggak mau menyewa kapal karena memang nggak mau keluar banyak budget. Bayangin aja kapal seharian 400ribu. Huhuhu. Ya udah, kita mulai siap-siap membawa snorkeling gear masing-masing ke arah dermaga. Sesampainya di dermaga, gw mulai excited karena sudah cukup lama nggak snorkeling. Namun begitu melihat kondisi ombak, nyali mulai ciut. Itu ombak agak serem ya untuk dibuat snorkeling. Tapi karena sudah terlanjur dan pengen basah-basahan juga, terpaksalah gw turun ke lautan berombak itu. Baru turun, badan gw udah ditarik-tarik ombak. Mencoba memandangi bawah laut, tapi….well…cuma karang-karang biasa aja dan nggak rapat #hikz. Kecipak-kecipuk di air sambil sesekali meminum air laut itu udah nggak enak. Ini ditambah lo harus berenang melawan ombak!! Ya akhirnya, nggak berapa lama, kita semua menyerah *lambaikan tangan ke kamera* dan kembali ke dermaga. Semua ngos-ngosan. Beristirahat sejenak di warung yang ada di dermaga, kemudian kami kembali ke Pantai Pasir Perawan.

Snorkeling Terekstrim

Entry Snorkeling-nya

Underwater Pari

Ok, kita sampai di proses perawan-memperawani. Hehehe. Memperawani tendanya Ricco! Ricco yang baru aja punya tenda Lafuma. Gw sebagai orang awam dunia perkemahan, tentunya nggak ada pengalaman diriin tenda. Dari jaman SD aja gw nggak pernah tuh ikutan kemah Pramuka (SD lo dimana sih tho?). Si Ricco udah pernah sih nenda di gunung, tapi itu juga diriin tendanya rame-rame ama teman-temannya. Alhasil, ini adalah pengalaman diriin tenda pertama buat gw dan Ricco! Makanya gw sebut memperawani (selain karena kondisi tendanya yang baru). Kalau lihat sekilas, diriin tenda itu gampang! Tapi begitu lo dihadapkan ama pasak-pasak, tetalian dan tendanya itu sendiri, dang!! Silakan mencoba. Mulailah si Ricco sibuk masang-masangin tuh tenda, sedangkan gw lagi sibuk masang hammock! Yak, ini hammock juga baru gw perawanin! Hahaha. Gw masang hammock nggak sampe 10 menit, begitu lihat si Ricco, lhaaaaa tuh tenda masih nggak berbentuk! #huftness. Gw pun akhirnya bantuin. Nah, yang bikin gondok, cewek-cewek malahan pada foto-foto. Mentang-mentang nggak tidur di tenda. Huhuhu. Setengah jam berlalu, tenda masih belum kebentuk. Dalam hati, kalau sampe nggak kebangun, gw tidur dimana???! Namun berkat kegigihan kita (prettt), setelah 1.5jam berkutat dengan tenda, tendanya berdiri!!! #sujudsyukur. Pas banget, matahari udah hampir tenggelam. Yay, si tenda udah nggak perawan! Hahahaha

Our Tent & Hammock

Sunset Dari Tenda

Matahari mulai tenggelam, kita semua mulai mengantri mandi; gw dan Ricco di rumah Mbak Yanti, sedangkan Dee dan Moja di rumah saudaranya Mbak Yanti. Kenapa musti misah? Karena kamar mandi di rumah Mbak Yanti agak terbuka. Pfft.  Selesai mandi, kita semua kembali ke Pantai Pasir Perawan untuk menikmati makan malam di tepi pantai #asedap. Makan malam dengan barbeque ikan dan rajungan!!!! Dengan hanya kami berempat, rasanya porsi makan malam kita ini terlalu lebay. Hahaha. Wah, ini sih bakal tidur pulas karena kekenyangan. Hehehe. Setelah menghabiskan jatah makan malam, kita nggak langsung tidur. Kita masih nongkrong-nongkrong di saung Pantai Pasir Perawan. Sampai akhirnya, keheningan malam diusik dengan tingkah anak kota yang membawa sejenis pengeras musik ke pantai!! Cih, kita kan ke sini mau menikmati kesunyian. Eh malah diganggu ama anak kota yang nggak punya manner! Dengan rasa kecewa, gw dan Ricco masuk ke tenda sedangkan Dee dan Moja pulang ke rumah Mbak Yanti. Dan karena Ricco belum ada penerangan di dalam tenda, alhasil tenda kita gelap gulita! Mana siangnya diceritain cerita spooky tentang asal-usul Pantai Pasir Perawan #parno. Jadi, asal-usul Pantai Pasir Perawan ini agak ngenes. Pasalnya, dulu terdapat sepasang adik-kakak yang masih kecil (cewe-cowo) warga asli Pulau Pari. Saat itu, mereka sedang bermain di pantai. Ketika si kakak (cowo) sedang membelakangi adiknya yang sedang bermain, tetiba terdapat kerumunan burung gagak yang mendekati adiknya. Berdasarkan penuturan si kakak (yang katanya sampai saat ini masih hidup), adiknya dibawa pergi kerumunan burung gagak itu. Pencarian terus dilakukan namun tidak membuahkan hasil dan sampai saat ini si adik perempuan itu tidak ditemukan. Nah, oleh warga sekitar dikarenakan anak itu maish kecil dan perawan, makanya dinamakan Pantai Pasir Perawan #bergidik. Yak, tapi alhamdulillah malam itu nggak ada kejadian apa-apa.

Asiknya nenda di pantai adalah, ketika bangun tidur, langsung disambut semilir angin laut dan deburan ombak. Tambah beruntung lagi kalau pantainya menghadap ke timur, dapat sunrise! Nah, kebetulan Pantai Pasir Perawan ini bisa mendapatkan sunset sekaligus sunrise! Nah, pagi itu gw bangun dengan disambut mentari #ceileee. Sayangnya hari ini kita harus kembali ke hiruk-pikuk Jakarta. Tetapi kapal yang akan membawa kita ke Muara Angke masih berlayar pukul 11:00 jadi masih ada waktu untuk keliling Pulau Pari. Nah, di waktu singkat itu gw dan Ricco jalan-jalan ke Pantai Kresek dan Bukit Matahari.

Sunrise Dari Tenda

Pantai Kresek

Bukit Matahari

Advertisements

19 responses to “Memperawani Tenda di Pantai Pasir Perawan

  1. sempat pernah kemping (seekday) di pantai pasir perawan di ujung, ga jauh dari lapak2 makanan, saya ga ngerasa ada hal2 yg aneh sih di sana. tempatnya tetep terang pdhl lapak2 makanan tsb sudah tutup Seru aja sih kemping di sana. FYI, sebelumnya jg udh pernah denger2 n baca2 cerita ttg asal-usul pantai tersebut, tapiii ya jgn trlalu dip[ikirin laahhh! yg penting have fun.

    FYI (lagi niiih), pas dtg pagi jam 9an, saya disambut kawanan lumba2 lho di ujung dermaga, lalu keesokan paginya di kejauhan dari pantai psr.prwn kelihatan juga kawanan lumba2. Wow banget! 🙂

    Enjoy the day at Pari Island!

  2. Pingback: Jalan-jalan ke Pulau Pari | Aad Gym·

      • Ceritanya saya transfer DP 300rb. Begitu pulang dari pulau pari saya lupa pembayarannya gak dikurangin DP tsb. Saya telpon dia, dan dia janji akan transfer balik. Tapi dia ingkar sampai sekarang udah berbulan2. Sms dan telpon saya gak dijawab. Jumlah uangnya memang sedikit, tapi saya kecewa aja dia udah merusak kepercayaan para blogger yg ngereview dia

      • waduh…mungkin krn pak udin blm ada waktu ke pramuka kali ya. kan satu2nya bank terdekat di pramuka. turut berduka ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s