Kota Seribu Sungai: Loksado, The Real Bamboo Rafting

Apa sih yang menarik di Loksado? Loksado merupakan daerah wisata yang boleh dibilang di pedalaman Kalimantan Selatan dan berada di kawasan pegunungan Meratus. Jangan ngebayangin suasana tradisional dan bakal menemui suku dayak yang masih primitif. Berdasarkan hasil googling, daya tarik wisatawan ke Loksado adalah bamboo rafting. Untuk mencapai Loksado dari Banjarmasin diperlukan berkendaraan sekitar 4-5 jam. Gw sendiri “beruntung” punya saudara di Banjarmasin, jadi sesampainya di Banjarmasin dengan Citilink pukul 15:30 WITA, langsung diantarkan ke Loksado #luckyme. Hehehe. Pak Amat, contact person yang gw dapat dari salah satu blog turut menjemput di bandara. Beliaulah yang mengatur sewa-sewaan bamboo rafting buat gw. Perjalanan yang panjang ke Loksado melewati hutan cukup lebat yang terkadang ada daerah tertentu terdapat rumah-rumah penduduk setelah itu melewati daerah hutan nan sepi terutama rute setelah melewati Kandangan. Nah, kalau mau ngeteng, dari Banjarmasin bisa naik angkutan berupa colt L-300 ke Kandangan dulu, terus dari Kandangan bisa lanjut ke Loksado dengan angkot yang setelah pukul 11:00 siang tidak beroperasi. Kalau udah kelewat jam operasi si angkot, bisa naik ojek aja. Oiya di Kandangan ada kuliner berupa Ketupat Kandangan yang udah gw bahas di sini. Jalanan setelah Kandangan yang sepi penduduk agak membuat kuatir dan was-was jikalau mobil yang gw tumpangi ini mendadak bermasalah. Tambahan lagi suasana malam gelap gulita tanpa lampu jalan. Wassalam banget di tengah hutan *ketok-ketok meja*.

Sekitar pukul 20:00 gw sampai di Loksado. Suasana sudah sangat amat sepi *yailah*. Alhamdulillahnya masih ada listrik jadi masih ada penerangan. Langsung aja gw menyebrangi jembatan gantung menuju Wisma Loksado yang sudah gw booking sebelumnya. Pak Taufik, sang manager, mengantarkan langsung gw ke kamar. Kamarnya lumayan, tapi sayang, tempat tidurnya twin -__-“. Setelah menaruh tas, gw kembali mengobrol dengan Pak Amat terkait rencana bamboo rafting esok. Rencananya, sebelum mengarungi sungai Amandit, gw akan mengunjungi Air Terjun Haratai dulu. Berhubung malam sudah cukup larut, hgw menyudahi pembicaraan dan kembali ke kamar. Langsung aja gw mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Malam itu cukup dingin karena sorenya Loksado baru diguyur hujan sehingga membuat gw langsung pengen tidur karena harus menyiapkan fisik untuk pertualangan besok harinya. Musik alam menghiasai sepinya malam. Suara derasnya aliran sungai di belakang penginapan serta bunyi jangkrik merupakan suatu hal yang tidak bisa kita alami ketika di kota apalagi Jakarta. Sayangnya, musik alam terusik ketika lolongan anjing (atau serigala) menggema. Shoot! Malam-malam sendirian di tengah hutan pake acara lolongan. Nah, tetiba udara semakin dingin dan gw merinding! Merinding ini sama ama merindingnya gw kalo ada “sesuatu”. Berasa kalau ada sosok yang lagi ngeliatin! Tetiba HP berbunyi karena ada whatsapp dari seorang teman yang bilang begini “Ntho, lo tidurnya di kasur yang deket jendela kan?”. Gw yang sadar gw lagi tidur di kasur seberang langsung balas “Gw di sebrang, knapa?”. Dia langsung balas, “pindah sekarang!”. Gw yang tahu kalau dia adalah indigo, langsung nurut. Tapi, merinding gw tidak juga hilang walau gw udah pindah tempat tidur. Teman gw nge-whatsapp lagi, “Lo tenang aja, dia pengen kenalan doank”. Errr. Nih teman gw kok bisa ngerasain juga ya? Gw mulai baca-baca ayat kursi dan segala doa. Sampai akhirnya si makhluk itu pergi. Capek kali ya doi #yesriver. Gw pun tertidur.

Jembatan Wisma Loksado

Wisma Loksado

Pukul 6:00 pagi, gw terbangun oleh alarm yang memang udah dipasang sebelumnya. Rasa dinginnya pagi rasanya menggelayut dan menggoda untuk melanjutkan lagi tidur. Namun tak lama kemudian gw segera bangkit karena gw pikir rugi kalau melewatkan pagi yang fresh di pegunungan. Udah jauh-jauh dari Jakarta kok cuma tidur aja. Gw mulai keluar kamar (walau belum mandi dan emang rencana nggak mandi) dan memfoto suasana sekitar Wisma Loksado sekaligus mencari sarapan. Gw sarapan di warung pinggir jalan cukup dengan membayar 5 ribu rupiah udah dapat nasi ayam walau ayamnya nggak besar. Goceng kok mau dapat gede. Selesai sarapan, Pak Sapuan menjemput untuk membawa gw ke Air Terjun Haratai. Lokasi Air Terjun Haratai berjarak 8 Km dari Wisma Loksado. Katanya sih bisa dengan trekking selama 4 jam. Kalo gw sih trekking-nya pas udah mendekati air terjun aja. Sisanya? Naik ojek! Hahaha. Selain nggak mau capek, gw juga menghindari tersesat di hutan belantara. Nggak lucu kan belum bamboo rafting tetiba hilang di hutan. Wkwkwk. Naik ojek bolak-balik dari depan Wisma Loksado harus merogoh kocek sebesar Rp 50 ribu. Si abang ojeknya harus yang berpengalaman karena jalur menuju Air Terjun Haratai layaknya arena off road. Gokil abis! Nah alhamdulillahnya Pak Sapuan ini jago banget mengendarai off road membelah hutan belantara #sedikitlebay. Sebelum mencapai air terjun, gw diajak untuk mengunjungi dusun adat dayak. Sebuah desa yang sederhana dengan perpaduan bangunan/rumah modern dan tradisional bernama dusun Malaris. Bagi yang suka fotografi terutama yang menyukai tema human interest dan bangunan tradisonal serta nuansa pedesaan, tidak akan rugi datang ke tempat ini. Yang cukup menarik perhatian adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu yang oleh Pak Sapuan disebut Balai Adat. Selesai berfoto, gw kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada pos penjagaan menuju Air Terjun Haratai. Sebelum mencapai air terjun terdapat 2 bangunan kecil sepertinya kamar mandi namun kondisinya tidak terawat. Air Terjun Haratai berwarna kehijauan. Air terjun ini tidak terlalu besar dan tidak berundak tapi arusnya lumayan deras, mungkin karena hujan semalam. Salah satu kecantikan alam yang masih tersembunyi. Saat itu hanya kami yang berkunjung. Gw sempat menceburkan kaki ke aliran airnya dan airnya dingin pake banget. Sedingin sikap kamu sama akoh #kemudiancurhat. Nggak berlama-lama di sana, gw kembali ke wisma untuk melanjutkan petualangan selanjutnya.

Di Dalam Rumah Suku Dayak

Suku Dayak Sedang Mengolah Rotan

Air Terjun Haratai

Nah, sekarang saatnya menikmati primadona Loksado yang tak lain adalah si bamboo rafting yang gw sebutin sebelumnya, dimana kita dibawa berarung jeram di Sungai Amandit yang cukup deras arusnya menggunakan rakit bambu alami. Rafting pake perahu karet mah udah basi cuy! Kalo kata Black Eyed Peas, so two-thousand late #apeu. Rakit bambu yang digunakan untuk bamboo rafting terbuat dari 10 batang bambu sepanjang 7-8 meter yang diikat juga dengan kulit bambu. Menurut Pak Sapuan, pengemudi rakit sekaligus guide gw, ukuran rakitnya menyesuaikan kondisi sungai dan dikarenakan gw ke sana ketika musim kemarau sehingga debit airnya tidak begitu deras makanya ukurannya hanya 10 batang bambu. Menurut Pak Sapuan, saat terbaik untuk naik rakit bambu sekitar bulan Desember sampai Juni karena debit air sungai tinggi. Rakit bambu ini biasa disebut lanting dalam bahasa Banjar. Bamboo rafting tercipta karena aktivitas para petani bambu yang mengirimkan hasil bambunya ke kota Kandangan dengan cara menghanyutkan batang-batang bambu di Sungai Amandit. Pukul 8:30 rakit bambu yang gw tumpangi mulai dikayuh Pak Sapuan mengarungi sungai Amandit. Banyak pemandangan yang bisa dinikmati, dari pemandangan alam bukit Meratus itu sendiri sampai penduduk yang sedang beraktivitas di pinggir sungai. Menyusuri sungai Amandit bagai menjalani kehidupan, kadang tenang, kadang penuh jeram #eeaaa. Ketika dii area yang banyak batu-batu, Pak Sapuan harus bekerja keras karena seringkali rakit kita tersangkut sehingga harus ditarik, didorong dan kadang diangkat sedikit supaya rakit bisa terus melaju. Ibarat seorang pangeran, gw cuma duduk manis-ganteng di atas rakit ketika rakit tersangkut dan Pak Sapuan sendiri yang mengusahakan supaya rakit bisa jalan lagi. Sebenarnya yang gw takutin selain rakitnya terbalik adalah adanya buaya! Tetapi kata Pak Sapuan di sungai Amandit nggak ada buaya karena tidak berlumpur. “Paling hanya biawak”, celetuk beliau. Bosan memotret sepanjang perjalanan, gw mulai melirik HP. Dan…..Eng-ing-eng, dapat sinyal EDGE powered by Telkomsel *iklan supaya tetap digaji*. Jadi gw live tweet dari atas rakit ketika arusnya tenang. Hihihi. Rakit kita berhenti di Tanuhi yang kalau naik mobil jalan darat biasa ditempuh sekitar 1/2 jam dari Loksado tetapi mengarungi melalui sungai “hanya” 2,5 jam saja. -__-“

Pak Sapuan Sedang “Beraksi”

Aktivitas Di Sungai Amandit

Aktivitas Di Sungai Amandit (2)

Perjalanan panjang dan melelahkan berakhir di Banjarmasin sekitar pukul 4:00 sore. Lega sudah menikmati petualangan ini.Sudah pasti menjadi pengalaman tidak terlupakan meski badan lelah. Jika ingin merasakan sensasi rafting di atas bambu, kita perlu memesan semalam sebelumnya agar dibuatkan terlebih dahulu. Kita juga perlu merogoh kocek sebesar 250 ribu dimana kapasitas lantingnya mampu menampung 3 penumpang saja. Hal ini sepadan dengan serunya adrenalin berpacu pada saat melewati jeram-jeram liar. Benar-benar seru! Highly recommended! Dibandingkan pengalaman bamboo rafting di Guilin Cina. Mosok rakitnya aja terbuat dari pipa PVC yang dicat mirip bambu. Pfft. Secara keseluruhan Loksado kaya akan sumber daya alam. Merupakan kawasan wisata yang menurut beberapa referensi masih kurang di kembangkan dan di promosikan. Pengamatan singkat dari yang datang umumnya para petualang dan pejalan yang betul-betul niat ke daerah ini. Mungkin karena letaknya cukup jauh, akses transportasi umum kesana termasuk jarang, serta tidak seramai obyek wisata lain sehingga membutuhkan banyak dana untuk menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata.:(

Pemandangan Sungai Amandit

Advertisements

18 responses to “Kota Seribu Sungai: Loksado, The Real Bamboo Rafting

  1. Kak, mw tanya soal potret memotret di atas bambu sendiri vulnerable gak e.g licin, goyang-goyang, tak pokus? Aman gak kameranya sama cipratan air? Trus kitanya duduk atau diri di atas bambunya?
    Tengkyu atas perhatiannya kakaa 😀

    • maaf baru balas yaa..utk memotret di atas bambunya aman kok…itu saya pake SLR 🙂
      kan jeramnya nggak seekstrim arung jeram hehehe.
      Di bambunya kita duduk, dibuatin bangku2an dr bambu jg..mau ke sana ya? have fun!

    • maaf bro, d HP gw nggak simpen lagi.
      tapi gw masi simpen kartu nama Wisma Loksado-nya.
      Beliau bisa bantu kok.
      085251544398

  2. Wah,senang rasanya ada wisatawan yang mau berkunjung ke kota saya.Thx ya,,,Btw,ntar ke sini lagi ya.Pas bulan desember asik tuh.ada acara bambo rafting,dimana getek atau lantingnya di hias.trus banyak pasangan pengantin yang diarak berada di atas getek atau lanting ini.ada puluhan bahkan ratusan lanting atau getek yang ikut dalam festival ini.Rutenya dari loksado dan berakhir di kota kandangan,tepatnya,lapangan lambung mangkurat tepat di pusat kota.Atau kalau mau etnik banget pas bulan juni-juli dimana ada “aruh ganal” itu loh acara adat dayak setempat dan dihadiri dayak dayak dari wilayah kalimantan lain.banyak wisatawan lokal maupun manca negara.(maaf bro,promosi).Nah,ditunggu ya…

    • wahhh…baru tau ada acara2 kaya gitu di Lokasado…btw ada tanggal pastinya nggak mas untuk yg desember ataupun yg juni-juli gitu? jadi bisa dipublish supaya banyak yg ke sana..hehehhe

  3. Ohya,satu lagi.Tepat gwa menulis komen ini,acara festival bambung rafting sedang berlangsung.Jadi ceritanya ini sambil di pinggir sungai melihat lanting lalu lalang…hahhaha

    • Biasanya Akhir Bulan desember,saat2 debit air sungai yang menjadi jalur naik.Kalau acara adat dayak meratus (aruh ganal) loksado,kapan waktunya saya kurang tau pastinya tetapi biasanya di bulan juli-juli (pertengahan tahun).Biasanya banyak media yang meliput,tv daerah-nasional swasta bahkan asing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s