Kota Seribu Sungai: Pasar Terapung Lok Baintan

Panorama Lok Baintan

Alarm pukul 4:00 WITA membangunkan tidur gw pagi itu. Pagi-pagi buta gw dan sepupu gw harus berangkat menuju Rumah Makan Soto Bang Amat. Padahal masih mengantuk karena petualangan di Loksado kemarin. Mau ngapain pagi-pagi buta ke restoran soto banjar? Sahur? Hahaha #yesriver. Di rumah makan ini, Pak Imis, pengemudi klotok yang telah gw sewa sehari sebelumnya telah menunggu untuk mengantarkan gw ke Pasar Terapung Lok Baintan. Meeting point gw di Soto Bang Amat karena rumah sepupu gw lumayan dekat dari situ. Menyusuri jalanan sepi lalu lalang kendaraan bermotor yang masih belum beraktivitas waktu karena ayam jago saja belum berkokok, sedangkan gw udah di atas motor melakukan perjalanan yang dingin. Sebelum berangkat ke Lok Baintan, kami menyempatkan diri menunaikan sholat subuh di sebuah musholla di pinggir sungai. Lalu kami mulai naik ke atas kelotok, dan Pak Imis menyalakan mesin. Off we go to Lok Baintan Floating Market!
Banjarmasin yang memang mendapat julukan kota seribu sungai bukanlah tanpa sebab. Sungai menjadi urat nadi perekonomian di sana. Pasar terapung seolah telah demikian melekat sebagai ikon pariwisata Banjarmasin atau Kalimantan Selatan. Lok Baintan bukan merupakan pasar terapung satu-satunya di Banjarmasin, masih ada satu lagi pasar terapung di Muara Kuin. Muara Kuin dulu melambung namanya berkat masuknya ke iklan RCTI, tetapi katanya beberapa blog yang berhasil gw googling, Muara Kuin udah tidak seramai dulu. Jadi lebih baik ke Lok Baintan saja. Jika menggunakan jalur darat dari Terminal Banjarmasin yaitu Terminal Induk di Jalan Ahmad Yani bisa langsung naik angkutan pedesaan jurusan Sungai Tabuk. Sedangkan alternatif lain adalah jalur air dengan menggunakan klotok. Biasanya harus janjian dahulu dengan pengemudi klotok perihal tempat penjemputannya. Aktivitas di Pasar Terapung Lok Baintan berlangsung mulai dari selepas subuh, dan mencapai puncak kenikmatan, ehh puncak keramaian pasar antara jam 6-7 pagi. Itulah kenapa gw harus melawan kantuk dan dinginnya udara pagi demi untuk ke sini. Perjuangan!
Sepanjang perjalanan air menuju Lok Baintan banyak terlihat aktivitas MCK penduduk yang mendiami pinggiran sungai Martapura. Kegiatan MCK di tempat yg sama dengan air sungai yang berwarna coklat. Yang satu mandi, yang sebelah sikat gigi, eeehhh yang sebelahnya (maaf) buang air. Hahaha…. Tapi kok mereka kelihatannya sehat aja ya? Hihihi.. Agak gimana aja gitu rasanya melihat air sungai yang berwarna coklat dengan cukup banyak sampah terapung digunakan untuk sikat gigi dan mandi. Kondisi sungai Martapura ini berbanding terbalik dengan kondisi sungai Amandit di Loksado. Banyak juga perhu jukung yang juga menuju ke arah yang sama ama gw. Gw sih menduga mereka adalah penjual atau pembeli di pasar terapung. Dan akhirnya setelah menempuh 1 jam perjalanan menyusuri Sungai Martapura menggunakan klotok dari Banjarmasin, sampailah gw di Pasar Terapung Lok Baintan. Hawa sejuk pagi hari begitu terasa karena Lok Baintan adalah daerah pedesaan.

Semburat Orange Ketika Menuju Lok Baintan

Menuju Pasar

Sebenarnya tadinya mau hunting sunrise dulu di jembatan Lok Baitan sebelum foto-foto di pasarnya, tetapi berhubung cuaca jelek, kami langsung menuju pasar. Ketika sampai, hanya terlihat beberapa perahu jukung saja di sana. Langitpun masih belum terang. Lama kelamaan, mereka mulai berdatangan dan memenuhi lokasi pasar terapung. Belasan hingga puluhan ibu-ibu berkumpul dengan perahu jukung. Mereka membawa beragam bahan makanan di dalam perahunya, mulai dari sayuran, buah, ikan, daging ayam, kue-kue tradisional, hingga warung soto. Suasana berdesak-desakan antara perahu di pasar terapung ini cukup unik dan khas. Para pengemudi jukung dengan mahirnya mengayuh dan mengejar pembeli atau penjual yang berseliweran kian kemari. Bagi wisatawan yang datang dari kota-kota besar, akan merasakan sensasi tersendiri ketika mengamati pedagang wanita dengan topi lebarnya berperahu menjual hasil kebun atau makanan olahannya sendiri. Pedagang di Lok Baintan menggunakan topi caping. Warga Banjar menyebutnya tanggui. Sebuah penutup kepala yang mirip tudung nasi, yang terbuat dari daun kelapa kering yang dirangkai hingga membentuk lingkaran menyerupai topi. Sebagian pedagangnya juga menggunakan bedak tradisional yang terbuat dari beras. Bedak tersebut bernama pupur dingin, sebuah metode tradisional suku Banjar dalam menangkal panas matahari. Pupur dingin itu dioleskan pada bagian wajah. Jika sudah mengering, warnanya akan menjadi putih. WOW! Sunblock alami! Haha

Pake Sunblock Alami

Keriuhan Pasar Terapung

Transaksi

Menurut Pak Imis, Lok Baintan dinamakan demikian karena berdasarkan legenda setempat, di daerah ini ditemukan banyak intan (Lok berarti sungai, sedangkan Baintan berarti berintan). Masih menurut Pak Imis, pasar terapung Lok Baintan baru ramai pada hari pasaran. Hari pasaran jatuh setiap hari Jum’at tiap minggunya. Pantesan aja waktu di sana tidak begitu ramai, wong hari Minggu. Lagi pada nunggu mau nonton Doraemon di rumah #yesriver. Jadi bila anda ingin berkunjung ke pasar terapung Lok Baintan, sebaiknya datang pada hari pasaran. Sepertinya ini sudah menjadi tradisi sejak dahulu, kalau pasar terapung Lok Baintan baru ramai ketika hari pasaran. Sementara pada hari lainnya bisa dibilang kondisinya begitu sepi dari para pedagang. Karena ini pasar terapung, maka pasar tidak hanya berhenti di satu titik saja. Semakin siang, pasar semakin bergerak ke hilir mengikuti aliran arus sungai.

Pengunjung Pasar

Gosip Di Jukung Juga Bisa

Selain ramai oleh jukung pedagang dan pembeli, sungai tabuk diramaikan pula oleh klotok-klotok wisata yang penuh oleh wisatawan. Kemarin juga melihat beberapa bule. Kemarin hanya klotok gw aja yang terlihat sederhana. Hanya sebuah klotok dengan tempat duduk tanpa atap. Sedangkan klotok-klotok lain beratap. Selain itu, gw juga melihat #horangkayah yang datang ke sini. Betapa tidak #horangkayah, mengunjungi pasar terapung seperti ini kok menggunakan speedboat. Sirsak tanda tak mango. Ada lagi #horangkayah lainnya yang menggunakan semacam kapal penumpang besar #huftness2012. Tetapi memang benar-benar #horangkayah, mereka datang agak siang. Gw udah puas berfoto, mereka kayanya baru bangun dari hotel mewah. Hahaha. Puas menikmati pasar terapung Lok Baintan, sekitar pukul 7:30 gw kembali diantar kembali ke Rumah Makan Soto Banjar Pak Amat.

Advertisements

5 responses to “Kota Seribu Sungai: Pasar Terapung Lok Baintan

  1. blm perna nich yg di lok baintan …. kayak nya wajib kesini. Waktu yg di muara muin sempet makan soto diatas perahu dan jadi pengalaman seru karna makan sambil goyang2

  2. Aku kmrin beruntung datang ke Lok baitan pas hari jumat. Rame. Trus Kuin nggak seasyik lok baitan kok. Di sana pedagangnya lebih sedikit trus barang yang di dagangin banyak barang modernnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s