Diusir Sultan Ternate

Planning dari awal ke Ternate memang ingin bersnorkeling ria di beberapa spot, yaitu Pantai Sulamadaha, Talaganita dan Jikomolamo. Talaganita dan Jikomolamo terletak dekat dengan Pantai Sulamadaha tapi tidak bisa dicapai melalui jalur darat. Jalur satu-satunya adalah kita harus terlebih dahulu ke Pantai Sulamadaha untuk kemudian menggunakan kapal yang disewa untuk menuju kedua tempat itu. Perjalanan dari kota Ternate ke Pantai Sulamadaha sendiri (kami menggunakan angkot supaya hemat) memakan waktu sekitar 2 jam karena terlebih dahulu berhenti di Batu Angus yang memang searah. Dikarenakan saat itu bukan hari libur, pantai ini terlihat sepi pengunjung maupun orang yang berjualan. Kamipun sempat kebingungan mengenai sewa kapal ke Talaganita dan Jikomolamo. Untungnya, nggak berapa lama menunggu, ada perahu penumpang yang baru saja menurunkan penumpang dari Pulau Hiri. Langsung saja gue mendekati si bapak pengemudi kapal untuk bernegosiasi. Negosiasi cukup alot karena ternyata kapal penumpang cuma ada 2 saja; yang satu mengantarkan penumpang dari Ternate ke Hiri dan yang satunya sebaliknya. Dengan mengandalkan kemampuan itung-itungan anak FEUI, yaitu Riri dan kemampuan komunikasi anak HI Unpad,Ricco , akhirnya kita berhasil menaklukkan si bapak. Berhasil! Berhasil! Berhasil! *loncat-loncat ala Dora*.

Dengan hati senang, kami mulai berlayar ke arah perhentian pertama, yaitu Talaganita. Sesampainya di Talaganita, kapten kapal mulai menambatkan kapalnya di pohon kelapa. Pantainya sepi. Tapi, pantainya bukanlah pantai berpasir melainkan pantai dengan pecahan karang berwarna putih. Beberapa mulai turun termasuk gue. Nah, insiden paling ngegondokin dan bikin kesel seumur-umur gue traveling pun terjadi. Tiba-tiba seorang bapak berperawakan sedang tapi sudah agak tua keluar dari dalam rumah peristirahatan Sultan. Si bapak berteriak-teriak, “Mau apa kalian ke sini?!”. Dengan sopannya kami menjawab, ingin bersnorkeling di daerah sini Pak. Si bapak masih dengan nada teriak kembali memarahi kami, “Atas ijin siapa kalian ke sini? Kalau mau ke sini harus dengan ijin tertulis dari Sultan!!”. Tanpa mendengarkan jawaban kami lebih lanjut, si bapak tua ini langsung melepaskan tali pengikat kapal kami dari pohon kelapa tanpa mempedulikan bahwa sebagian teman-teman yang di bawah tidak bisa berenang dan saat itu kondisi laut sedang berombak. Kami pun buru-buru naik ke kapal dibantu awak kapal. Sudah di atas kapal pun si bapak masih berteriak, “Di sini dilarang berenang, berfoto!”.

Sebelumnya memang salah seorang teman di Ternate sempat bilang kalau Talaganita ini punya Sultan Ternate. Well, gue sih beranggapan kalau tempat ini boleh-boleh saja dikunjungi asalkan Sultan sedang tidak berada di situ. Tapi alangkah kagetnya gue atas pengusiran yang dilakukan si abdi dalam Sultan ini. Seharusnya, si bapak bisa dengan sopan memberitahukan kepada kami. Toh jika diberitahukan dengan sopan, kami juga akan pergi jika memang tidak diperbolehkan bersandar. Seperti yang pernah gue alami di salah satu pulau pribadi di kepulauan Seribu. Ketika tidak ada pemilik sedang di pulau itu, kami dibiarkan bebas bersnorkeling di sekitar pulau oleh si penjaga pulau. Tetapi pada suatu hari ke sana dan sedang ada tamunya, si penjaga pulau tidak berteriak-teriak dari pulau untuk mengusir kami. Apalagi sampai menembakkan senapan #yakale. Si bapak ini dengan sopannya mendayung kapal dan mendekati kami seraya berkata, “Maaf, sedang ada tamu di pulau”. Memahami hal ini, kami segera menyudahi snorkeling. Kepulauan seribu yang bagian dari Jakarta yang dibilang lebih kejam dari ibu tiri aja bisa sopan. Terus si bapak ini yang berasal dari Timur Indonesia yang terkenal dengan keramahannya, kenapa bisa tidak ramah? Bahkan kepada pendatang yang bisa dibilang turis, yang dapat memajukan perekonomian daerah setempat. Apakah kearoganannya sebagai abdi dalam kesultanan??

Advertisements

2 responses to “Diusir Sultan Ternate

  1. Tadi cerita-cerita sama bos gue yang pernah ke Sulamadaha, ternyata memang gak bisa ke Talaganita itu. Dia waktu itu juga gak sampe merapat cuma lewat doank. Cuma emang caranya aja yang terlalu ekstrim sih..pengalaman lah itu, gue sih gak ngerasain langsung secara gue masih asik foto-foto belum sempet turun… 😀

  2. memang agak kasar sih bahasanya org sini (ternate red) tp mungkin maksudnya baik, krn menjunjung tinggi sultannya. saya yg asli sini pun kalo ditegur seperti itu pasti tersinggung hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s