Kejutan di Pulau Timor

Sekretaris Bos: “Mas, hari Senin ke Kupang ya”

Gue dengan terbengong kaget menimpali, “Ha? Ngapain?”

Si sekretaris pun menjawab, “Ada meeting, tadi Pak X disposisi”

Seketika lampu idepun menyala, “Berangkatnya bisa dimajuin kan?”

Diapun menjawab, “Bisa Mas, asal hotel sebelum meeting ditanggung sendiri”

Guepun langsung sumringah.

*************************************************************

Setelah pembicaraan itu, gue pun langsung kelimpungan cari-cari destinasi seputaran Kupang. Meeting hari Senin dimana hari Jum’at sebelumnya adalah harpitnas, lumayan kan, jalan-jalan dengan tiket pesawat gratisan. Hahaha. Gue punya Kamis sampai Minggu untuk mengeksplor. Sempat terlintas ke Alor. Cek-cek tiket pesawat dari Kupang ke Alor, harganya 700 ribu PP. Teman ada yang sempat memberi ide “Kenapa nggak ke Timor Timur?”. Guepun langsung menjawab, “Nggak”. Ya, gue nggak tertarik ke provinsi Indonesia yang sekarang sudah menjadi negara sendiri. Dan, pilihan destinasi terakhir adalah Rote. Yak, salah satu kepulauan terluar Indonesia. Alasannya simpel aja, dengan waktu sekitar 3 hari, akses ke Rote cukup mudah. Hanya dengan naik kapal cepat 2 jam, kita sudah sampai di Rote. Then, Rote it is. 🙂

Peta Timor & Rote

Peta Timor & Rote

Dikarenakan semua flight Garuda Indonesia hari Kamis itu penuh, gue terpaksa naik Lion Air, di-downgrade. Huhuhu. Hari itu, pesawat Boeing 737-900ER membawa gue ke bandara El-Tari, Kupang di pulau Timor dengan sebelumnya transit dahulu di Surabaya. Setibanya di bandara El-Tari, gue langsung menuju ke pintu keluar untuk mencari ojek. Namun, gue dikagetkan sesosok tubuh yang sangat tidak asing di mata. Sosok yang sudah lama tidak gue jumpai. Ia adalah seorang sahabat yang sudah lama lost-contact. Dan ternyata, dia juga menuju Rote, padahal sebelumnya dia sudah menyambangi Rote saat trip besarnya ke Flores-Alor-Rote. “Kangen Nemberala”, katanya. Guepun senang karena setidaknya ada teman ngobrol sekaligus sharing cost. Hahaha. Kamipun langsung ke taksi untuk diantarkan ke penginapan  karena tidak memungkinkan langsung ke Rote. Malam ini kami terlebih dahulu menginap di Kupang, yaitu di Lavalon Homestay. Dengan cukup mengeluarkan 50 ribu sekamar, toh cuma untuk tidur sebentar. Oiya, tarif taksi di sini dipukul rata, 60 ribu! Sesampainya di homestay, kami bertanya kepada si empunya homestay untuk menyewa motor. Negosiasi berjalan alot, dan deal di harga 50 ribu untuk setengah hari. Tujuan kami adalah Pantai Lasiana untuk menikmati sunset.

Sunset Lasiana

Sunset Lasiana

Pantai Lasiana terletak di Jalan Timor Raya. Yup, satu-satunya jalur menuju Atambua, perbatasan dengan Timor-Timur. Untuk mencapai Pantai Lasiana dengan mengendarai motor, sekitar 20 menit. Sesampainya di sana, agak sedikit kecewa karena tidak sesuai bayangan gue. Well, pantainya luas sih, tapi dengan adanya semacam “tembok” membuatnya tidak alami lagi. Selain itu, pantai cukup banyak saung-saung yang menjual makanan. Akhirnya, gue memutuskan untuk hanya duduk di “tembok” itu sambil menunggu turunnya sang mentari ke peraduan. Sayangnya, cuaca sedikit mendung sehingga sunset yang diharapkan tidak begitu bagus. Akhirnya kami kembali ke penginapan untuk mandi karena malam ini kami ingin makan seafood di Pasar Malam Kupang. Selesai mandi, kami buru-buru ke Pasar Malam yang lokasinya cukup dekat dengan Lavalon. Berbagai aneka ikan, cumi dan kepiting digelar di depan masing-masing penjual. Kami mulai mendekati satu persatu penjual untuk survey harga mana yang termurah. Hehehe. Dan akhirnya, kamipun mendapatkan makan malam seafood dengan ikan bakar, cumi saos padang, kepiting hanya seharga 80 ribu!! Ahh.. I love seafood. Kenyang membuat kami mengantuk dan dikarenakan besok juga harus mengejar kapal pukul 7:30 WITA ke Rote, kamipun segera beristirahat.

Pukul 6 pagi, taksi yang sebelumnya sudah kami pesan sudah menunggu di depan penginapan. Om Primus, sang pengemudi taksi, akan membawa kami berdua ke Pelabuhan Tenau. Sekitar setengah jam perjalanan, kami sampai di pelabuhan Tenau. Pelabuhan sudah ramai oleh calon penumpang kapal cepat tujuan Rote, tetapi gerbang ke dalam pelabuhan belum dibuka sehingga penumpang menumpuk di sekitar gerbang. Sekitar pukul 7 barulah gerbang dibuka dan calon penumpang berlarian menuju loket pembelian tiket. Yak, bukan Indonesia kalo antreannya tertib. Tanpa adanya jalur antrean yang jelas, kita mendusel-dusel di antara kerumunan calon penumpang lain. Alhamdulillah, tiket seharga 120 ribu untuk kelas Eksekutif didapat dan kami menunggu di ruang tunggu sampai akhirnya kapal diberangkatkan menuju Rote.

Tiket menuju Rote

Tiket menuju Rote

Perjalanan selama 1.5 jam melewati Selat Rote kami alami dengan aman-aman saja. Tidak ada ombak atau angin kencang karena cuaca cukup cerah. Sesampainya di pelabuhan Ba’a, kamipun langsung menghampiri salah satu dari sekian banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menyewa sepeda motornya sebagai alat transportasi kami selama di Rote.  Setelah negosiasi yang alot, kami menyepakati 200 ribu. Kami akan mengembalikan sepeda motor sembari kembalinya kami ke Kupang. Motorpun dikendarai sahabatku menuju Batu Termanu karena menurutnya objek ini lumayan dekat dari Ba’a. Nggak berapa lama, kamipun sampai di Batu Termanu. Bukit savanna dengan rerumputannya di tepi pantai dan di kejauhan terlihat sebuah batu tinggi seperti menara. “Itu tuh Batu Suelay”, kata sahabatku. Jadi, Batu Termanu sendiri terdiri dari 2 batu besar, yaitu Batu Suelay dan Batu Hun yang berada di tengah laut. Batu Suelay disebut juga sebagai batu pria karena berbentuk seperti ‘lingga’, sementara Batu Hun disebut batu wanita karena menyerupai ‘yoni’. Gue yang nggak sabar langsung jalan mendekati batu tersebut. Well, agak mirip Camel Hill di Guilin kalo menurut gue. Puas berfoto dan karena matahari siang itu cukup terik serta perjalanan ke Nemberala cukup jauh, akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan.

Batu Termanu

Batu Termanu

Motor dibawa memutar arah balik kembali melewati kota Ba’a. Dan dikarenakan perjalanan kali ini memang cukup jauh, kami mampir sejenak di sebuah warung untuk sekedar mengisi perut. Dan jauh-jauh ke Rote, makannya soto ayam Surabaya. Hahaha. Waktu tempuh dari Ba’a ke Nemberala melintasi setengah bagian dari pulau Rote ke arah selatan sekitar 2 jam tapi sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh pemandangan indah mulai dari bukit savanna, barisan pohon lontar, pantai berpasir putih dengan biru laut yang kontras. Tak sedikit juga kami melihat segerombolan kerbau dan kuda yang entah liar atau menang sengaja dibiarkan bebas bermain dan mencari makan di tengah perbukitan. Hamparan savannanya hamper sama dengan kontur di Pulau Komodo dan Rinca, minus komodonya tentunya. Penanda kami telah tiba di Nemberala adalah adanya gapura tua dengan nama Nemberala yang beberapa hurufnya telah menghilang. “Selamat datang di Nemberala”. Nemberala sendiri hanya merupakan desa kecil di ujung selatan pulau Rote tapi sudah tersohor berkat ombaknya di kalangan peselancar dunia.

Nemberala

Nemberala

Kami langsung mencari penginapan sesampainya di sana. Sempat singgah di Hotel Anugerah, tetapi ternyata over budget. Hahaha. Dan akhirnya kami memutuskan ke Hotel Tirosa, sebuah penginapan di ujung jalan dengan halaman yang luas dan langsung menghadap ke pantai. Harga permalam Rp 150.000,-/orang sudah termasuk 3x makan, twin bed dengan kamar mandi di dalam pada setiap kamar. Rata-rata penginapan di Nemberala memang mengenakan tarif perorang dan sudah termasuk makan, karena disini jarang dijumpai warung makanan. Uniknya, bentuknya ada yang berupa cottage (dengan harga yang sama). Sayangnya yang itu sudah full. Hikz. Oiya, listrik di sini menyala hanya di malam hari mulai dari pukul 18.00 –  06.00 WITA. Setelah membayar penginapan selama 2 malam, kami langsung menaruh tas kemudian berjalan keliling pedesaan Nemberala. Lalu kami akhiri dengan menunggu matahari terbenam di pantai belakang penginapan. Ahhh…Benar-benar damai. Di bawah pepohonan kelapa, ditemani semilir angin pantai sambil menikmati matahari terbenam.

Sunset di Nemberala

Sunset di Nemberala

Hari kedua di Rote rencanya kami akan menyusuri pantai-pantai di selatan Nemberala. Selesai sarapan dengan pisang goreng, kamipun memulai perjalanan. Deretan pohon kelapa berbaris dikanan kiri jalan menghiasi halaman-halaman rumah warga yang satu sama lain hanya dibatasi tumpukan bebatuan dan terkadang malah tidak berpagar. Rerumputan berwarna oranye kontras menyatu dengan tanah berpasir putih, terbelah oleh aspal hitam sebagai penghubung utama dari satu desa ke desa yang lain. Selama 1 jam motor kami melaju, tibalah di sebuah pantai berpasir putih yang tidak kalah indah dengan Nemberala, yaitu pantai Bo’a. Pantai Bo’a sungguh cantik. Pasirnya lebih putih, lebih halus dan lebih luas dibanding Nemberala. Karena masih ada satu pantai lagi yang harus kami kunjungi, tak berlama-lama kami di Bo’a.

Pantai Bo'a

Pantai Bo’a

Motor baru melaju beberapa menit, tetiba langit mendung dan rintikan air hujan perlahan turun membasahi padang luas di tanah Rote. Motor yang melaju kencang terpaksa berhenti untuk meneduh. Dan dikarenakan tidak ada tempat meneduh selain sebuah makam berbentuk bangunan kecil di tepian jalan depan rumah warga maka di sanalah kami meneduh. Makam-makam keluarga memang sengaja didirikan di depan rumah, sama halnya di sebagian wilayah lain di NTT. Sambil menunggu hujan reda, kami mengeluarkan cemilan untuk dimakan. Di kejauhan, si sanak keluarga pemilik makan mengayunkan tangannya seolah memanggil kami untuk meneduh di rumahnya. Dengan sopan kami menolak dan memutuskan tetap di makam saja. Keramahan warga lokal memang mudah ditemui di wilayah timur Indonesia.

Ketika hujan mulai mereda, motor kembali kami laju untuk menuju Pantai Oeseli. Namun kesialan kembali menimpa kami. Ban belakang motor kami kempes! Kamipun menuntun motor kembali ke desa terdekat untuk menanyakan tempat tambal ban. Sesampainya di sana, kabar nggak mengenakkan kami terima, tempat tambal ban hanya ada di Nemberala! Waduh, jalan kaki sampai ke sana bisa berapa jam? Namun lagi-lagi kami mendapatkan keramahan warga lokal. Si bapak menawarkan membawa motor kami untuk ditambal dan kami diminta menunggu di rumahnya. Makin nggak enaklah kita. Tapi si bapak bersikukuh dank arena nggak ada opsi lain, kamipun menyerahkan kunci motor ke si bapak. Selama menunggu di rumahnya, kami disuguhi kopi hangat serta perbincangan-perbincangan yang menghangatkan diri dan suasana selepas hujan.Selama hampir 2 jam kami menunggu dan si bapak kembali. Katanya, ban motor harus diganti karena tidak bisa ditambal. Kamipun berpamitan dan mengucap terima kasih tiada henti (lebay). Dan mulai melanjutkan perjalanan ke Oeseli. Namun, dari kejauhan kami melihat langit di atas Oeseli begitu gelap sehingga mengurungkan niat dan memutuskan kembali ke Nemberala saja. Keputusan untuk kembali ke Nemberala adalah benar. Begitu sampai, hujanpun kembali turun. Tapi tak begitu lama mulai mereda dan kamipun bermain ke pantai yang karena sedang surut, banyak petani rumput laut sedang memanen. Kejutan kembali kami dapatkan di hari terakhir kami di Nemberala. Ketika menengok ke balakang, tampak 2 busur pelangi cukup indah di atas pepohonan kelapa. Ya, bukan sebujur saja, tapi dua! Ahh, penutup yang indah.

edt_20130608_160842

Rainbows after the rain

Esok hari kami harus kembali ke Kupang. Namun, malam harinya kami belum dapat kepastian apakah kapal akan berangkat esok. Nah lhooo. Alhamdulillahnya, pagi itu kami mendapatkan kabar kalau kapal diberangkatkan dari Kupang, yang berarti ada kapal kembali ke Kupang, Yay! Sebelumnya kami sudah membeli tiket kapal melalui orang penginapan dengan harga yang sama. Tetapi kami akan dikejutkan oleh hal ini. Sesampainya di atas kapal, ternyata tiket kami adalah tiket ekonomi! Kami tertipu tapi karena sudah dibayar ya ikhlas nggak ikhlas kami duduk di kursi keras dengan perjalanan selama 2 jam. Lah, perginya 1.5 jam, kok pulangnya malah 2 jam? Karena perjalanan pulang ternyata ombak kurang bersahabat. Beberapa kali kapal sempat mati di tengah gelombang. Seisi kabin ekonomi berteriak, “Tuhan Yesus, tolong kami”. Hanya gue yang dengan lantang mengucap “Astaghfirullah”. Kebersamaan itu indah 🙂

Advertisements

10 responses to “Kejutan di Pulau Timor

  1. mantab to, gw aj blom sempet ke rote. padahal 2mg lalu gw ke kupang loh. Gw sewa motor dsana 75rb/hari. Gw sih kl d kupang kerjanya wisata kuliner to. mungkin maksud lo pasar malam itu kampung solor ya? gw jg suka makan dsono. untuk sunset gw suka di teddy;s beach, and di jalan menuju ke pelabuhan tenau juga bagus viewnya.

    • ke sana mar…bertahun2 di NTT jg lo…iya kampung solor itu, yang sekarang masuk ke gang. kemarin dr Swiss-belInn jg bagus sunsetnya. Hahaha *nginep gratis*

  2. tuh sewa motornya 200/hari mas? klo jadwal kapal cepatnya tiap hr brp kali yaa mas? tks

  3. mas boleh minta nomor tlp tirosa hotel di rote?krn rencananya besok saya mau kesana. makasih

    • kemarin itu saya go-show dan tidak menyimpan nomornya juga. go-show pasti dapat kok karena kamarnya banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s