BERTEMU SI KUCING BIRU DARI MASA DEPAN

Siapa yang nggak tahu Doraemon? Tokoh animasi hasil imajinasi Fujiko F Fujio ini memang sudah menghiasi layar kaca Indonesia sejak tahun 1990an. Jadi bagi gue sebagai anak yang tumbuh kembang di tahun 90an, tentunya sangat mengidolakan Doraemon. Pengen punya pintu ke mana saja. Pengen punya baling-baling bambu. Dan pastinya pengen punya semua yang ada di kantong ajaib Doraemon. Suka kesal dengan Nobita yang selalu bodoh. Pengen nonjok Giant yang selalu semena-mena. Atau pengen rasanya ngejewer bibir Suneo yang sok tajir melintir itu. Hahaha. Dan tentunya pengen rasanya bertemu langsung si kucing biru tanpa telinga yang sering dikira rubah itu.

Doraemon

Doraemon

Udah berkunjung jauh-jauh ke Jepang, gue pun nggak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu tokoh idola masa kecil gue; Doraemon. Pasalnya di kota Kawasaki, terdapat sebuah museum yang dibangun walikota setempat untuk menghormati Fujiko F Fujio sang pencipta Doraemon. Museum ini nggak dikhususkan hanya Doraemon saja, tetapi juga karya lain Fujiko F Fujio seperti P-Man dan 21-emon. Namun karena hasil karyanya yang paling booming adalah Doraemon, maka yang banyak didisplay kebanyakan ya Doraemon. Untuk mencapai museum Fujiko F Fujio ini dari Tokyo perlu waktu hampir 1jam dengan gonta-ganti 3 kereta. Pertama kali, kita harus ke Kawasaki untuk kemudian berganti kereta menuju Noborito atau Shukugawara. Lah, kok dua tempat gitu? Jadi, ke museum ini bisa dengan shuttle bus museum seharga 500 yen PP dari stasiun Noborito. Nah, kalo yang mau saving kaya gue? Bisa kok jalan kaki sekitar 20 menitan. Kalo jalan kaki, turunnya nggak di stasiun Noborito tapi di stasiun Shukugawara. Dari stasiun Shukugawara, udah banyak petunjuk jalan menuju museum ini jadi nggak mungkin nyasar deh. Hehehe. Oiya, kita nggak bisa sembarangan datang ke museum dan membeli tiket masuknya lho. Tiket ke museum harus dibeli sebelumnya melalui Lawson. Untungnya gue punya teman di Tokyo yang mau diribetin ngebeliin tiketnya dulu seharga 1.000 yen. Hehehe. Nah, tiket masuknya juga ada jam-jam kunjungannya; pukul 10:00, 12:00, 14:00 dan 16:00. Gue memilih pukul 10:00 supaya nggak terlalu siang. Maksud jam-jam kunjungan ini supaya membatasi jumlah pengunjungnya agar tidak terlalu penuh dan pengunjung bisa nenikmatinya.

Dorami

Dorami

Sekitar pukul 9:45 gue udah sampai di depan museum. Petugas museum yang mengetahui kalo gue bukan orang Jepang langsung dengan fasihnya berbahasa Inggris menyapa dan meminta tiket gue untuk diperiksa apakah sesuai dengan jam kunjungannya dan kemudian gue diminta ikut mengantre. Ternyata walaupun sudah sesuai jam kunjungan, untuk masuknya kita masih dibagi-bagi lagi. Di pintu depan, tiket ditukarkan dengan tiket nonton teater dan sebuah alat untuk menerangkan kepada pengunjung masing-masing spot di dalam museum. Alat ini tersedia dalam 3 bahasa; Jepang, Korea dan Inggris. Jadi nanti di dalam museum, ada nomor-nomor dan kita tinggal menekan nomor tersebut di alat ini, kemudian akan keluar suara yang menerangkan tentang spot tersebut. Cukup pintar, jadi nggak perlu orang lagi untuk menjelaskan. Sayangnya di dalam tidak diperkenankan mengambil foto ataupun video. Hikz. Di dalam, detil dijelaskan perjalanan hidup Fujiko F Fujio dari mulai beliau lahir sampai wafatnya. Display ruang kerja beliau juga dipajang di sini. Karya-karya beliau. Dan tentu saja Doraemon, terutama film-film layar lebarnya.

P-Man

P-Man

Di lantai 2, kita udah boleh berfoto ria. Ada ruang baca komik-komik Doraemon lengkap! Tapi sayangnya ya itu, dalam bahasa Jepang #yaiyalah. Dindingnya juga dihiasi gambar-gambar Doraemon dan P-Man. Jadi pengen punya rumah dengan ruang bermain anak kaya gini #eh. Ada mainan seperti puzzle muka Doraemon. Ada juga mainan berbentuk Dorami, sang adik Doraemon. Oiya, gue sempet juga ke toiletnya dan….bahkan di toiletnya pun masih ada Nobitanya! Hahaha. Nggak berlama-lama di lantai 2, gue naik ke lantai 3 dimana lantainya outdoor dan terdapat replika lapangan tempat bermain Nobita, Doraemon-Nobita sednag naik dinosaurus seperti di filmnya serta jreng-jreng-jreng replika pintu kemana saja! Mulai deh narsis dan minta tolong orang untuk motoin. Maklum solo traveler. Hehehe. Alasan narsis ya cuma satu, no pic = hoax. Wkwkwkwk. Puas berfoto-foto, perut mulai keroncongan, maka gue beralih ke kafe-nya. Makanannya lumayan mahal! Tapi, udah sampe sini dan boro-boro ada di Indonesia, maka guepun membeli Dorayaki Chiffon dan Chocolate Flavor Milk. Begitu keluar pesanan gue, ngerasa sayang ngerusak kue berbentuk Doraemon serta minuman dengan topping dibuat wajah Doraemon. Tapi yang penting udah difoto, jadi udah sah untuk dimasukkan ke dalam perut. Hahaha. Kenyang di kafe, gue turun ke lantai 1 untuk pulang. Sebelum pulang sempat mampir ke toko souvenirnya. Well, sebenarnya gue nyari souvenir berupa baling-baling bambu, tetapi ternyata nggak ada L. Di situ hanya ada souvenir standar berupa kaos, pin, kartupos, mug, dll. Gue cuma beli kartupos ama pin karena yang agak murah itu. Hehehe. Selain itu, gue juga beli kue Dorayaki kesukaannya Doraemon. Harganya lumayan mahal, 200 yen untuk sepotong kue.

Pintu kemana saja!

Pintu kemana saja!

Me & Doraemon

Me & Doraemon

 

 

Advertisements

10 responses to “BERTEMU SI KUCING BIRU DARI MASA DEPAN

  1. Aaarrrgg kucing di negeri kucing #ehh
    Tapii ada yang kurang di postinagan ini…. mana foto dorayakinya? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s