Tour de Embassies

7 Februari 2014, hari ini gue udah bersiap-siap dari sehabis sholat Subuh. Pasalnya, gue udah bikin janji untuk memasukkan dokumen untuk apply visa Schengen melalui kedutaan Belanda pada pukul 8:00. Oiya, untuk mengajukan visa Schengen melalui kedutaan Belanda, kita terlebih dahulu membuat janji submit dokumen di link berikut . Pukul 6:00 gue udah berangkat dari rumah di daerah Lenteng Agung dan sekitar pukul 7:10 gue udah sampe di pintu samping kedutaan Belanda. Sampai di situ, sudah ada beberapa orang yang mengantri. Gue pun ikut mengantri sampai akhirnya giliran gue dipersilahkan masuk oleh security-nya. Pemeriksaannya mirip kaya masuk ke bandara; ada metal detector dan x-ray scan. Sampai di dalam, masih harus antre untuk pengecekan kelengkapan dokumen. Setelah dokumen dicek lengkap semua, gue dikasih selembar kertas berwarna hijau dan dokumen harus diurutkan sesuai yang diinginkan yaitu passport-kertas hijau-bukti reservasi-formulir visa-lembaran perjalanan (bisa didapat ketika pengecekan)-copy asuransi perjalanan-copy booking tiket-reservasi hotel-surat keterangan kerja-copy bank-copy Kartu Keluarga. Masih harus menunggu si bapak security memanggil nama kita untuk masuk ke dalam loket. Untuk masuk ke dalam, semua barang ditaruh di loker dan kita hanya diperkenankan membawa dokumen dan dompet. Begitu nama gue dipanggil, gue melangkah ke dalam ruangan dan mengambil nomor antrean; dapat nomor 523.

Nomor 523 dipanggil ke loket 5. Sampai di depan loket 5, disambut senyuman mbak-mbak di dalam. Mulailah ditanya-tanya, mau kemana aja, kok bisa lama jalan-jalan, kerjanya dimana. Proses tanya-jawabnya nggak formil sih, sambil ketawa-ketiwi ama si mbaknya. Hahaha. Sampai pada tahap si Mbak mengecek lembar perjalanan dan bookingan ho(s)tel gue. “Ini lamanya di Italy ya?”. Gue refleks langsung menjawab, “Kan Benelux Mbak. Kalo dijumlah lebih dari yang Italy”. Dia menimpali, “Nggak bisa dijumlah gitu. Harus lama di Belanda atau lama di Belgia atau lama di Luxembourg. Sebentar”. Dia menanyakan ke sepertinya-atasannya dan nggak berapa lama kembali. “Iya, Mas nggak bisa lewat sini. Harus apply lewat Italy. Kalo dipaksakan lewat sini pasti ditolak”. Dengan lemasnya, gue akhirnya mengambil kembali semua dokumen. Alhamdulillah-nya, iya masih bisa melihat sisi positifnya, bukan ditolak visa-nya. Mari kita ubah itinerary! Hihihi

Guepun menuju kantor dan sesampainya di kantor kepikiran, kenapa nggak apply visa Jordan or Mesir dulu? Yak, banyak visa yang harus dicicil. Huhuhu. Setelah menelepon kedutaan Jordan dan mempertimbangkan dekatnya dari kantor, maka gue akan mencoba apply visa Jordan. Sebenarnya Jordan bisa VOA, tapi gue mau menghindari antrean VOA di airport Amman dan mengurangi pengeluaran dalam USD atau Euro atau JOD (Jordan Dinar). Kedutaan Jordan terletak di Gedung Artha Graha lantai 9 dan buka hanya dari pukul 9:00-11:30 (karena hari itu hari Jum’at). Ketika menelepon, kata si Mbak-mbak, untuk apply harus ketemu Bapak Yusuf (entah dia siapa). Hahaha. Sesampainya di kedutaan Jordan yang mirip ruangan kantor, gue langsung disambut Mbak-mbak berjilbab dan bertanya “Keperluannya apa Mas?”. Gue langsung menjawab, “Apply visa Mbak”. SI mbak langsung mengecek kelengkapan dokumen yang udah gue persiapkan berupa passport, foto 4×6 berwarna, formulir yang diisi lengkap, print-out tiket, surat sponsor perusahaan, fotokopi rekening dan booking-an penginapan. Kemudian si Mbak menatap gue dan bilang “Ini berangkat akhir April Mas?”. Gue mengangguk dan langsung ditimpali si Mbak, “Kepagian Mas. Visanya kan cuma berlaku 1 bulan.” Dalam hati gue udah berwaduh ria. Si Mbak menambahkan, “Nanti apply 1 minggu sebelum berangkat aja. Di sini prosesnya paling lama 2 hari kerja kok”. Gue pun melontarkan senyuman manis gue sambil berkata, “Oke, makasih ya Mbak”. Another rejection from embassy. Huhuhu.

Keluar dari Artha Graha, gue langsung menuju halte busway untuk kemudian menuju kedutaan Mesir. Bismillah semoga kali ini nggak ditolak. Turun di halte Dukuh Atas, gue melanjutkan ke Jl Teuku Umar no 68 pake taksi karena memang nggak ada angkutan umum ke sana. Si supir taksi pun nggak tahu ketika gue bilang kedutaan Mesir, tapi tahu Jl Teuku Umar, yaudah ke jalan itu dulu aja ntar tanya-tanya. Malu bertanya, argonya mahal. Hehehe. Ternyata, letaknya dekat Taman Suropati. “Permisi Pak, mau apply visa Mesir”, sambil tersenyum ke bapak security. Dia kemudian membukakan pintu. “Masuk ke pintu depan dulu untuk isi daftar tamu, nanti baru ke pintu samping ya”, si security memberitahukan arah. Gue pun mengikuti arahan si bapak. Kesan pertama, kedutaan ini sepi dan lebih mirip rumah. Mirip-mirip ama kedutaan Myanmar tapi lebih bagus. Hehehe. Selesai mengisi buku tamu langsung keluar lagi untuk masuk ke pintu samping. Begitu memasuki ruangan, nggak ada satu orangpun, sampai tetiba ada orang kedutaan Mesirnya yang sepertinya memang asli sana. Gue langsung berkata sopan dengan tmbahan (lagi-lagi) senyuman manis, “Excuse me, I want to apply for visa and I need the form”. Dia tanpa berkata apa-apa langsung memberikan dokumen dan gue langsung mengisi selengkap-lengkapnya. Setelah selesai, kembali ruangan sepi, nggak ada seorangpun selain gue. Gue pun mengawasi sekeliling ruangan. Ada patung ala-ala Fir’aun. Ada lukisan piramid. Dan gue malah sibuk memfoto persyaratan visa. Hahaha. Jadi kalo official-nya, syarat visa Mesir adalah formulir yang diisi lengkap, foto 4×6 dengan background putih, surat sponsor, copy rekening bank 3 bulan terakhir, paspor yang masih valid 7 bulan, tiket dan booking penginapan serta copy Kartu Keluarga. Dan tetiba ada suara Ibu-ibu, “Mas udah selesai isi form-nya?”. Gue agak kaget dan menjawab, “Udah Bu”, sembari menyerahkan semua. Si Ibu kemudian mengecek kelengkapan form dan dokumen. “Jl Agung Raya dimana?”, si Ibu tetiba bertanya. Lah kenapa nanyaian rumah ini. Jangan-jangan si Ibu nyari mantu. Hahaha. “Dekat stasiun Lenteng Agung, Bu”. Si Ibu kembali menjawab, “Oh dekat kantor pos? Lah tetanggaan kita”, sambil tertawa. Gue pun tertawa dan menimpali, “Emang Ibu dimana rumahnya?”. “Saya di Srengseng”. “Iya, tetangga kecamatan ya Bu”, kita tertawa. Sampai kemudian si Ibu kembali mengeluarkan pertanyaan serupa si Mbak di kedutaan Jordan, “Kamu jalannya akhir April? Masih kelamaan ini kalo kamu apply single”. Sedikit lemas gue menimpali, “Yah, nggak bisa Bu?”. Tetangga kecamatan gue menimpali, “Kecuali kamu apply yang multiple”. Gue melihat papan pengumuman, harga single entry 320.000 sedangkan harga multiple entry 380.000. “Yaudah deh Bu, multiple aja”. Gue langsung memutuskan demikian karena daripada nanti mondar-mandir kan. Toh cuma beda 60.000. Si Ibu mencoret tulisan “Single” di formulir dan menggantinya dengan “Multiple”. “Nanti kalo udah jadi ditelpon ya, sekitar Selasa atau Rabu”. Alhamdulillah diterima dokumennya. Dan semoga approved visa-nya. AMIN!

Advertisements

15 responses to “Tour de Embassies

  1. Mau sharing aja, dulu gw apply visa schengen via kedutaan italy, tapi negara yg pertama kali gw datengin justru prancis. Katanya bisa karena gw lama di italy, masalahnya justru pas kita udah sampe di paris. Ketahan 2-3 jam di imigrasi sana karena ada surat2 yg harus di cek (katanya). Capek, takut disuruh pulang dan sebel, untung masnya ganteng -_-

  2. Mas, mau tanya tentang tiket untuk syarat visa Mesir.
    Waktu itu kan rute Mas nggak direct Jakarta-Cairo, nah dulu waktu apply kasih tiket yang ada aja (walaupun muter-muter) atau bookingan dulu (belom dibayar dan bisa reservasi Jakarta-Cairo pp) ya?
    Terima kasih, Mas 🙂

  3. Mas mau tanya lagi, waktu itu dapet visa multiple yang valid selama berapa bulan dan duration of stay-nya berapa lama ya? Kalau untuk visa single tau nggak mas valid berapa lama? Saya tanya ke embassy untuk single dijawabnya 1 bulan, tapi pas mastiin 1 bulan itu duration of stay atau masa berlakunya belum dijawab lagi.

    Sorry sebelumnya kalau banyak tanya, abis cuma blog mas kayaknya yang ada post tentang visa mesir tahun 2014 ini haha

    • Seingat saya, kmrn saya itu validity 3bln utk duration 1 minggu (nyesuaikan itinerary).
      Coba datang aja ke embassy-nya langsung, ada tulisannya deh di sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s